Kitab Ilmu Fiqih

Hasil Diskusi Ilmu Fiqih Kelas 1 Tingkat Tsanawi

Hasil diskusi ditashih oleh KH. Sholeh Nasihin
Tanggal/Hari : Selasa, 11 November 2014
Waktu : Pukul 20.00 WIB
Tempat : Gedung Hamida Lt.2
Moderator : BPH-Tarbiyah
Materi : Seputar Zakat
Peserta Diskusi : Seluruh Kelas tingkat 1 (satu) Tsanawi

Pertanyaan :

1. “Bagaimana hukumnya mengeluarkan zakat dari kebun yang lahannya diwakafkan untuk masjid sehingga kebun tersebut menghasilkan buah (kurma atau anggur). Apakah harus mengeluarkan zakat dari hasil buah (kurma atau anggur) tersebut?

Jawaban : Menurut qaol shohih tidak harus dikeluarkan zakat, karena yang namanya wakaf untuk masjid itu langsung hubungannya dengan Alloh SWT (tidak ada kaitan secara adami). Akan tetapi lain halnya apabila wakaf yang bersifat muayyan (ditentukan kepada seseorang) sehingga menghasilkan yang mencapai nishob dan haul zakat, maka itu harus/wajib dikeluarkan zakatnya. Referensi : Kifayatul AKhyar, hal. 188

2. Bagaimana hukumnya seorang mualaf (yang baru masuk islam) juga kaya dari segi harta, apakah boleh menerima zakat?

Jawaban :
Alasan seorang mualaf diperbolehkan menerima zakat:
1). Melihat pada redaksi Al-Qur’an, bahwa lafaz mualaf tertulis menggunakan alif lam yang menunjukan “Syiaghul Amm” (Shigat yang umum). dengan kata lain lafadz muallaf tersebut bermakna luas, bisa dia itu miskin ataupun kaya. Itu menurut kaidah Ushul Fiqih
2). Alasan diperbolehkan menerima zakat yaitu memberi kebahagiaan kepada mualaf tersebut karena keislamannya.

3. Bagaimana hukumnya zakat fitrah dengan uang seharga beras (makanan pokok)?

Jawaban : hukumnya tidak diperbolehkan, bahkan sekalipun beras (makanan pokok) tersebut diolah menjadi bahan makanan (nasi, roti, tepung), itu pun sama tidak diperbolehkan. Referensi : Kifayatul Akhyar, hal. 195

4. Apakah wajib dikeluarkan zakat dari kerbau yang disewakan untuk menggarap sawah, lalu pada akhir tahun kerbau tersebut mencapai nishob. Apakah wajib dikeluarkan zakatnya atau tidak?

Jawaban : Kerbau yang telah mencapai nishob, itu wajib dikeluarkan zakatnya. Dengan alasan dinisbatkan hukumnya pada sapi.

5. Bagaimana hukumnya zakat orang yang mati suri pas ketika masuk waktu wajib zakat fitrah?

Jawaban : orang yang mati suri (lepas ruhul hayat kemudian hidup kembali) pas ketika datangnya waktu wajib zakat, maka bisa dilihat kapan waktu meninggalnya. Apakah dia meninggal setelah terbenamnya matahari akhir romadlon ataukah sebelum terbenam matahari. Jika dia meninggal setelah terbenam matahari maka wajib dikeluarkan zakat fitrah, sebab dia mengalami 2 kurun waktu (Romadlon dan Syawal). Jika dia meninggal sebelum terbenam matahari, maka tidak wajib dikeluarkan zakat fitrah, sebab dia tidak mengalami/hidup dibulan Syawal. (Pergantian hari dalam penanggalan hijriah dihitung dari saat terbenamnya matahari). Referensi : Syarakh Bajuri, hal.415 (Cetakan Beirut)

6. jika di suatu daerah (negara) terdapat lebih dari satu jenis makanan pokok yang sama dan seimbang dalam mengkonsumsinya, manakah yang wajib dikeluarkan sebagai zakat fitrah?

Jawaban : Tinggal dipilih saja salah satunya untuk zakat fitrah. Referensi : Syarakh Bajuri, hal.417 (Cetakan Beirut)

7. Bagaimana hukum zakat dari jual beli barang haram?

Jawab : Berbicara harta jual beli yang telah mencapai nishob, apabila harta tersebut diperoleh dari barang najis atau haram, maka tidak harus dikeluarkan zakatnya. Sebab secara hukum jual belinya pun fasid (gagal/tidak sah) berarti harta tersebut tidak bisa dikategorikan maaluttijaroh/harta keuntungan jual beli. Referensi : Fathul Mu’in jilid 3 hal.8

8. Bagaimana hukum seorang pedagang yang non muslim/kafir, ketika menjelang setahun /haol semenjak dia mulai dagang, dia masuk islam. Apakah dia wajib mengeluarkan zakat maaluttijaroh ketika nishob ataukah tidak wajib?

Jawab : Mengenai kafir pedagang lalu dia masuk islam menjelang haol, itu tidak harus mengeluarkan zakat maaluttijaroh/harta dagangan (hasil jual beli). Sebab penghitungan dimulainya haol itu semenjak dia masuk islam bukan semenjak dia mulai berdagang.