Kalighrafi surat Al-Ikhlas

Ikhlas

Hadirin...

Syaikh Ibnu 'Athoillah adalah seorang yang diberikelebihan berupa karomah oleh Alloh. Salah satu Sufi Besar yang hingga sekarang namanya tetap harum melalui karya-karyanya.

Salah satu karya beliau dalam kitab hikam :

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِى أَرضِ الخُلُولِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَم يُدْفَنْ لاَيَتِمُّ نَتَاجُهُ

Tanamkanlah wujudmu ke dalam bumi yang tersembunyi karena yang tumbuh dari sesuatu yang tak ditanam itu tak akan sempurna hasilnya.

Pepatah ini mengarahkan pandangan kita kepada keikhlasan. Ikhlas menjadi kekuatan yang menghalau kepentingan pribadi. Bila kepentingan diri sendiri dapat kita tundukkan, barulah akan muncul keikhlasan.

Hikmah ini pun mengajak kita menyelami persoalan hakikat diri kita sendiri. Kita diciptakan dari tanah, maka kembalikan ia (jasad) pada tanah, jasad harus diibaratkan sebagai tanah supaya ia tidak mengenakan tipu dayanya. Apabila kita sudah dapat menyekat pengaruh jasad maka kita hadapi pula ruh kita. Ruh datangnya dari Alloh, karena ruh adalah urusan Alloh maka kembalikan ia kepada Alloh. Apabila seorang hamba itu sudah tak terikat lagi dengan jasad dan ruhnya maka jadilah dia sebuah wadah yang siap diisi dengan apa yang telah ditentukan Alloh.

Pada awal perjalanan, seorang pengembara kerohanian membawa bersama-samanya sifat-sifat basyariah serta kesadaran terhadap dirinya dan alam nyata. Dia dikawal oleh kehendaknya, pemikirannya, cita-citanya, angan-angannya dan lain-lain. Alam sekitarnya seperti galian, tumbuhan dan hewan turut mempengaruhinya. Latihan kerohanian menghancurkan sifat-sifat yang keji dan memutuskan rantaian pengaruh alam sekitarnya.

Hadirin...

Jika kalimat tadi kita perhatikan, dapat dilihat bahwa hijab nafsu dan akal-lah yang membungkus hati sehingga kebenaran tidak kelihatan. Akal yang ditutupi oleh kegelapan nafsu, yaitu akal yang tidak menerima pancaran nur, tunduk kepada perintah nafsu. Nafsu tidak pernah kenyang dan akal senantiasa ada jawaban dan alasan. Hujah akal menjadi benteng yang kukuh buat nafsu bersembunyi. Kita jangan memandang enteng kepada kekuatan nafsu dalam menguasai akal dan panca indera. Dalam surat al-Furqaan ayat 43-44 telah memberi peringatan mengenainya yang artinya :

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?!, atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami?! mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Menundukkan nafsu bukanlah pekerjaan yang mudah. Seseorang itu perlu kembali kepada hatinya, bukan akalnya. Hati tidak akan berbohong dengan diri sendiri sekalipun akal menutupi kebenaran atas perintah nafsu. Kekuatan hati adalah ikhlas. Maksud ikhlas yang sebenarnya adalah :

Katakanlah : Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh yang mengurusi semesta alam.

Dalam ikhlas tidak ada kepentingan diri. Semuanya karena Alloh semata. Selagi kepentingan diri tidak ditanam dalam bumi maka keikhlasan pun tidak akan tumbuh dengan baik. Ia menjadi sempurna apabila wujud diri itu sendiri ditanamkan. Bumi tempat menanamnya adalah bumi yang tersembunyi, jauh daripada perhatian orang lain. Ia adalah umpama kubur yang tidak bertanda.

Hadirin,

Dengan mengubur hawa nafsu kita semoga senantiasa Alloh memberi keikhlasan dalam melakukan berbagai tugas yang telah Alloh amanatkan kepada kita.

© Pesantren Miftahul Huda 2015. All Rights Reserved.
Manonjaya - Kab. Tasikmalaya